Keabadian yang Singgah



Keabadaian yang Singgah
Kau tau mas? Oh kau bukan orang Jawa, tapi aku tak tau harus memanggilmu apa. Sore ini bumi dikunjungi petir. Apa bumi sudah cerita? Kabut juga ikut bersamanya.
Kau takut mas? Aku tidak, aku bisa lihat dari jendela.Tirai bgunga-bunga bilang, petir hanya ingin bersahabat. Tapi aku tak mau. Kau tau, petir gak asik mas, gak seperti bahas kita. Meskipun dia bercahaya dia gak secantik aurora dan gak seramah matahari. Bumi juga bilang gitu.
Oh ya mas, bagaimana dengan kakak itu? Ya, dia yang selalu kau tulis di blogg. Apa dia masih sering cerita tentang pelangi? Wah, pasti seru. Kau pasti lebih menyukai ceritanya. Sedangkan aku, cuma menulis hal-hal yang mengerikan. Aku pesimistik yang baik, mas. Aku tak akan cerita tentang embun yang segar, pelangi sehabis hujan, embun yang segar lagi atau pelangi sehabis hujan, dan yang tidak lain dan tidak bukan adalah embun yang segar dan pelangi sehabis hujan.
Mas, aku bukan sementara, aku juga tak indah. Jadi, aku tak kan cerita hal-hal yang indahnya hanya sementara. Kau percaya kan mas, aku ini nyata, aku juga menderita, jadi akua akn cerita tentang petir, kabut, yang nyata meski hanya sementara. Karena aku percaya mas, hal-hal semacam itu sebentar saja. Sementara pelangi, harusnya bisa seperti matahari, abadi, kuharap bahagiamu seperti ini, biar kabut sementara mas, kau tak perlu pelangi, percayalah pada matahari.   

Komentar