Mengerti,Dimengerti
Mengerti,Dimengerti
Sulit
dimengerti. Wah,penulis macam apa itu? Kata-katamu lebih rumit dari masalah di
hidupku, lebih pesimis dari kepesimisan hidupku,dan lebih-lebih lainnya. Tapi
jujur, aku menyukai kesulitan-kesulitan itu dimana kau harus balik lagi ke
baris sebelumnya supaya mengerti.
Dan
kalian tahu,parahnya lagi, komentar-komentar yang nimbrung di bawah,
tang-tak-put, lang-tak-tar (mantra tuyul), bilang “menarik”,” inspiratif”, dan”
aktual”. Bleah... meskipun aku dulu secret admirenya kamu, karena toh ternyata
yang komen di bawah ada something sama kamu, ya, katamu kamu sudah lama
mencintainya. Aku sudah baca bagian itu, lalu aku mau komen “menarik” tapi ku
urungkan. Nanti saja, kusimpan dulu setelah si kakak yang cantik itu hilang
dari peredaran komentar.
Tapi,
aku bukan mau bahas itu. Aku mau tanya kabar bumi, katamu dia sahabatmu. Masih
akrabkah dia dengan hujan? Bagaimana deritanya ketika aku sudah membenci kalian
berdua? Ah, jangan katakan itu padanya. Aku harus pura-pura masih menyukainya
juga. Sampai nanti aku betul-betul membencinya. Akan kubunuh semua harapanku
dengan kedipan mata dan bersikap seperti aku tidak mengenalnya.
Siapa
itu, pencetus “bumi itu bulat”? Memangnya bumi benar-benar bulat ya? Namun
menurutku,tekadnya membhagiakan aku dan kamu tidak benar-benar bulat. Kau tau,
aku menyukai kamu dan bumi. Namun, itu saat aku belum mengerti apa-apa.
Sekarang? Aku juga belum mengerti apa-apa. Simpulkanlah sendiri.
Komentar
Posting Komentar